Oleh Karina Nastiya
“Keluarga yang baik pasti peduli pendidikan”
Pendidikan sebagai inti dalam kehidupan, tanpa pendidikan potensi yang dimiliki oleh seorang manusia tak akan dapat teroptimalkan dengan baik. Begitu banyak orang tua muslim menaruh perhatian terhadap upaya penjagaan identitas keislaman anak-anak mereka, lalai akan pentingnya mendidik anak sesuai Al-qur’an dan Sunnah merupakan akar dari segala persoalan.
Dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadr dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pernyataan tersebut mengindikasikan perlunya upaya dari orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh anak-anaknya. Mendidik anak-anak sesuai Al-qur’an dan Sunnah perlu kerjasama. Kedua orang tua harus meluangkan wktu mereka dan ikut serta secara aktif mengajar anak-anak mereka. Adalah tugas orang tua untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka sejak dini mengenai konsep tentang Alloh Swt, tentang tauhid (keesaan Alloh) dan tentang syirik (menyekutukan Alloh). Demikian juga, tentang rukun Islam dan rukun iman dan kepastian akan kematian, hari kiamat, surga dan neraka, itu semua harus diperkenalkan dan didiskusikan.
Dalam Al-Qur’an surat An-Naas, tauhid terbagi menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, tauhid mulkiyah dan tauhiduluhiyah. Aspek pertama, tauhid rububiyah yang berarti mengesakan Alloh Swt dalam penciptaan, pemeliharaan, pemilikan, dst. Tauhid rububiyah terbagi atas tiga menurut fungsinya :
a)Khaliqan (pencipta) QS 25:2, 2:21-22
b)Raziqan (pemberi rizki) QS 51:57-58
c)Malikan (pemilik) QS 2:284, 1:4, 114:2, & 62:2.
Tauhid rububiyah sebagai landasan bersyukur, sebab Alloh Swt yang menciptakan, menjamin rezeki dan memiliki kita.
Aspek kedua, tauhid mulkiyah adalah mengesakan Alloh Swt sebagai satu-satunya pembuat hukum dan pemerintah. Tauhid mulkiyah Alloh Swt meliputi :
a)Waliyyan (pemimpin) QS 7:196
b)Hakiman (pembuat hukum)
c)Amiran (pemerintah) QS 3:55
Tauhid mulkiyah menjadi landasan operasional. Karena ketika Alloh Swt menciptakan manusia Alloh telah menentukan ’blue print’ atau pedoman bagi manusia yaitu Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan hidup di dunia.
Aspek ketiga, tauhid uluhiyah adalah mengesakan Alloh Swt dalam segala bentuk penyembahan. Tauhid uluhiyah ini merupakan penguat tujuan kedua tauhid sebelumnya yaitu menjadikan Alloh Swt sebagai ilahan ma’budan / Tuhan Yang Disembah. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat An-Naas ayat 4 dan surat Al-Kafiruun ayat 1-6. Selain itu, tauhid uluhiyah sebagai landasan tujuan setiap amal kita, karena Alloh Swt-lah yang kita sembah. Contoh-contoh kemusyrikan yang timbul karena pengingkaran atau ketidak fahaman terhadap tauhid rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah.
Masa usia dini merupakan masa keemasan (golsen age) bagi perkembangan intelektual seorang manusia. Masa usia dini merupakan fase dasar untuk tumbuhnya kemandirian, belajar untuk berpartisipasi, kreatif, imajinatif dan mampu berinteraksi. Hal ini senada dengan ungkapan Ihat (2003:55) bahwa perkembangn intelegensi, kepribadian dan perilaku sosial pada manusia terjadi paling cepat pada usia dini, bahkan menurut Bloom (1984) bahwa separuh dari semua potensi intelektual sudah terjadi pada umur empat tahun.
Oleh karena itu, pendidikan dalam keluarga sebagai pendidikan yang pertama dan utama bagi perkembangan seorang anak, sebab keluarga merupakan wahana yang pertama untuk seorang anak dalam memperoleh keyakinan agama, nilai, moral, pengetahuan dan keterampilan, yang dapat dijadikan patokan bagi anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Seorang ibu adalah orang terdekat bagi anaknya dan tiap anak mungkin memiliki gaya belajar berbeda. Meski begitu, tiap anak tetap mampu berprestasi dengan ditunjang sarana belajar yang sesuai kebutuhan. Akan tetapi dalam hal mendidik anak ayah pun memiliki peranan penting dalam menyempurnakan proses pendidikan. Karena orang tua harus berusaha memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya, agar kelak ia menjadi makhluk yang paripurna. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim ”Didiklah anak-anakmu, sebab mereka dilahirkan untuk hidup dalam suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu.”
Lingkungan keluarga yang paling banyak mempengaruhi kondisi psikologis dan spiritual anak. Terdapat beberapa alternatif dalam mengenalkan Islam, baik dengan nyanyian dan cerita. Berikut ini ada beberapa contoh upaya dalam mengenalkan, memahamkan dan memberi nuansa tauhid bagi anak-anak :
1. sebelum memulai seluruh aktivitas yang bersentuhan dengan proses pembelajaran usahakan melakukan Kebulatan Tekad Pagi Hari. Hal ini merupakan pengganti salam penghormatan kepada ilmu, biasakan anak membaca kebulatan tekad sebelum pelajaran dimulai :
”Rodhiitu billahi robba wa bil islami diinaa wabimuhammadin nabiyya wa rosuula”
”Kami rela Alloh sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul kami.” (Jaudah, 1999:30)
2. Mengenalkan anak bahwa Alloh Swt Maha Pencipta dengan menceritakan menggunakan alat peraga baik gambar atau memperhatikan keadaan di lingkungan sekitar. Dengan materi pembelajaran tentang fakta penciptaan organ tubuh seperti mata, hidung, telinga, dll. Selain itu, makhluk lainnya seperti burung, semut serta bumi tempat manusia tinggal.
3. Mengenalkan anak bahwa Alloh Swt memberikan wahyu melalui perantara Nabi Muhammd Saw berupa Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia. Dengan amaln tambahan yaitu sunnah Rasul. Jelaskan pada anak bahwa didalam Al-Qur’an terdapat aturan bagi manusia untuk menunaikan ibadah, serta kisah-kisah tentang nabi terdaahulu.
4. mengajarkan anak bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Alloh. Dengan tidak mempercayai hal-hal yang bersifat musyrik / menyekutukan Alloh Swt dengn benda atau hal lainnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Asw. Wow, ada PJ Persis yang bikin blog patut dapat Two Thumbs Up (Acungan Jempol Doble) Hehehe...
BalasHapusApalagi ada Asri Kamila... (Ni Aci yang skarang kuliah di PPB UPI bukan yach?)
Materi udah OK Teh Karin, tapi pembahasaan yang simple-praktis dan lay out yang menarik (tidak rapat antar paragraf/ line number) sepertinya dibutuhkan deh.
Anyway tetap nge-blog biar suara kita menjadi pintu inspirasi atau bahasa Islam-nya, abwab al-hidayah, buat para pembaca.
Syukron wa Afwan billah...
Oky P. (Tarogong-Depok)