PUASA DARI AWWAL RAMADHAN

Oleh: KH.Abdul Qadir Hasan (Guru besar Jamaah Persatuan Islam)
(Disalin dari Majalah Al-Muslimun Edisi Jumadil Awal 1400 H/April 1980 M No.121/XI (26) Halaman 27, dengan tanpa perubahan ejaan dan susunan)

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمه
ARTINYA: Oleh karena (diwajibkan puasa) itu, barangsiapa dari antara kamu “menyaksikan” bulan (Ramadlan) itu, maka hendaklah ia puasa padanya. (Al-Baqarah:185)

PENJELASAN
1. ARTI KATA-KATA
a. Dalam ayat tersebut ada kata-kata “syahida”. Perkataan ini mempunyai beberapa arti: melihat, menyaksikan, mengetahui, mengakui, mengkhabarkan, melihat dengan mata, menghadliri. (Ini semua arti lepasan).
Yang dimaksud ayat tsb. Dapat ditujukan kepada:
a. Melihat dengan mata,
b. Mengetahui (dengan mata atau dengan lainnya).
Contoh:
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًارَسُولُ اللهِ
ARTI BIASA: Aku “menyaksikan” bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) melainkan Allah; dan aku “menyaksikan” bahwa Muhamad itu, adalah utusan Allah.

“Menyaksikan” Allah dan Nabi saw. dalam syahadat itu, tentu tidak dengan arti “melihat dengan mata” bagi kita, karena Allah tidak dapat dilihat, sedang Nabi saw. sudah tidak ada.

b. Kata-kata “Syahr” artinya: bulan. Bulan disini adalah yang berhubungan dengan waktu, yaitu satu bagian dari 12 bagian tahun. Kalau bulan dilangit disebut Qomar.
“Bulan yang berhubung dengan waktu” itu, sesuatu yang tidak dapat dilihat dengan mata. Maka lebih tepat apabila kata-kata “syahida” (menyaksikan) itu di ma’nakan dengan mengetahui.
c. Arti “puasa” lihat Tafsir Ahkam No. 18, AM 113.
d. Huruf “hu” yang ada pada fal-ya-shum-hu itu artinya “dia”, “nya”. “Dia” atau “nya” itu maksudnya bulan, yaitu bulan Ramadlan.
Maka “fal-ya-shum-hu” itu artinya: maka hendaklah ia puasa pada bulan Ramadlan itu. Inipun menunjukan bahwa kata-kata “syahida” itu, lebih tepat, kalau diartikan “mengetahui”.

2. BEBERAPA KETERANGAN
a. Untuk mendapatkan ketentuan satu Ramadlan itu, dapat dilakukan dengan dua jalan:
b. pertama: dengan jalan melihat bulan dilangit dengan mata. Cara ini bisa diistilahkan dengan “ru’yah”.
c. Ru’yah ini dibenarkan oleh Agama sebagaimana kandungan Al-Baqarah 185 itu, yaitu tentang arti kata-kata “syahida”.
d. Ru’yah ini tidak mesti dilakukan tiap-tiap otang yang hendak puasa. Boleh kita menerima khabar dari seorang atau bebrapa orang kepercayaan.
e. Menerima dan percaya berita beberapa orang itu, ada Riwayatnya sebagai berikut:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ (أبو دود)
ARTINYA: Dari Ibnu Umar, ia berkata: Orang-orang (berkumpul) melihat-lihat hilal (1 Ramadlan), lalu aku khabarkan kepada Rasulullah saw. bahwa aku juga melihatnya. Lalu Nabi saw puasa, dan memrintah orangt-orang berpuasa. (S.R.Abu Daud N0. 2325).
f. Kedua: dengan jalan hisab (hitungan). Tentang bolehnya ini, ada sabda Nabi saw:
لَا تَقَدَّمُوا الشَّهْرَ حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ قَبْلَهُ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ ثُمَّ صُومُوا حَتَّى تَرَوْا الْهِلَالَ أَوْ تُكْمِلُوا الْعِدَّةَ قَبْلَهُ (النسائ)
ARTINYA: Jangan kamu mendahului bulan, sebelum kamu melihat hilal (tgl.1) sebelumnya, atau (sebelum) kamu sempurnakan bilangan (sya’ban), kemudian puasalah sehingga kamu melihat hilal (1 syawal), atau kamu sempurnakan bilangan sebelumnya (yaitu Ramadlan). (H.R.S. Nasaaiy 4:135)

Hadiets ini dengan tegas membenarkan hitungan, yaitu menghitung bulan Sya’ban dan bulan Ramadlan.
g. dari antara dua jalan tersebut, dengan jalan hisablah yang lebih tepat dan selamat daripada melihat dengan mata yang sering tidak benarnya, karena tipuan mata.
h. Ayat ini umum mengenai setiap orang Islam, baik yang muqiem (yang dalam negeri sendiri), musafir, yang sakit atau lainnya.
i. Pengecualian dari keumuman tersebut, sudah ada dalam Al-Muslimun No.114, 115 dan 118.
3. MAKSUD AYAT TSB.
Perintah Allah dalam ayat tersebut maksudnya, bahwa puasa bulan Ramadlan yang diwajibkan itu, adalah dari awwal Ramadlan. Maka untuk menentukan awwal Ramadlan itu diunjukan 2 jalan: (1) dengan ru’yah dan (2) dengan hisab, tetapi penunjukan ayat itu lebih banyak condongnya kepada hisab.
4. ADANYA AYAT TSB
Hanya ada dalam Al-Baqarah 185 itu saja.
5. HUKUMNYA
Wajib puasa dari permulaan bulan Ramadlan setiap tahun Hijriyah.

PERAN WANITA DALAM BERJAMIYYAH

Oleh: Asri Kamila
…Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, kamu menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar…(Q S Ali Imran : 104)
Ayat di atas menggambarkan, pada hakikatnya manusia sebagai makhluk yang sempurna diciptakan untuk saling menyeru pada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Tugas tersebut jelas menjadikan peranan manusia dimana pun dan dalam hal apa pun harus senantiasa berlandaskan pada kebaikan. Tak terkecuali bagi wanita. Peranan wanita, baik itu sebagai seorang anak, istri, ibu atau anggota masyarakat, haruslah menjadi medianya menyeru pada kebaikan. Peranan wanita dalam hal apapun harus menjadi implementasi dari keimanannya kepada Allah SWT. Peranan tersebut penting sebagai sebuah refleksi rasa syukur kepada Allah SWT.
Dalam kehidupan bermasyarakat-yang kemudian kita sebut jami’iyah-, wanita memiliki peranan yang tak kalah penting dengan para pria. Sebagai bagian dari jam’iyyah, wanita haruslah mengambil perannya dalam menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, seperti yang telah diperintahkan pada ayat yang disebutkan di atas. Dengan kata lain, peranan wanita sebagai bagian dari jam’iyyah salah satunya adalah berdakwah.
Peranan tersebut harus dilaksanakan dengan tetap melihat skala prioritas dari amanah yang sedang dipikulnya, baik itu sebagai seorang anak, istri, atau ibu.

Masa sebagai Anak

Seorang anak perempuan mempunyai manajemen waktu agak longgar untuk mengatur kegiatannya, kesempatannya untuk berkarya dan memberikan yang terbaik bagi keluarga dan masyarakat terbuka lebar. Masa ini, merupakan masa emas bagi wanita dalam memainkan perananya di tengah-tengah jam’iyyah. Mengingat masa ini identik dengan masa yang penuh harapan, cita-cita, semangat dan enerjik. Berdakwah dan berjuang memberikan yang terbaik untuk jam’iyyah, merupakan hal yang sangat mungkin mampu dilakukan.

Masa Sebagai Istri

Pada masa ini, tidak sedikit wanita yang tidak PeDe bila menyatakan dirinya sebagai ibu rumah tangga, padahal kedudukan mereka dalam islam sebenarnya sangat mulia. Bahkan sebuah hadiah istimewa disediakan baginya, seperti dalam hadits berikut :
Dari Abdurrahman bin Auf r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda : “jika perempuan mengerjakan shalat yang lima, puasa ramadhan, memelihara kehormatannya, dan taat kepada suaminya maka akan dikatakan kepadanya, ‘masuklah ke dalam syurga dari pintu mana saja yang engkau sukai.’”(H.R. Ahmad dan Thabrani)
Berkontribusi pada masyarakat tidak melulu harus diartikan berdakwah di luar rumah, apalagi sampai mengabaikan tugas utamanya sebagai seorang istri. Istri berperan besar sebagai motivator, pendamping, pendukung dakwah suami, karier suami di dalam dan di luar rumah. Dengan demikian, optimalisasi seorang istri di rumah juga merupakan bagian dari esensi dakwah dan kontribusinya di tengah-tengah jam’iyyah, karena secara tidak langsung ia pun telah menyiapkan keluarganya-sebagai anggota masyarakat-menjadi bagian dari masyarakat yang siap membangun Islam di tengah-tengah jam’iyyah.
Rumah merupakan miniatur masyarakat Islam, yang mana seorang istri memainkan peranan penting di dalamnya. Oleh karena itu, optimalisasinya di rumah juga merupakan kontribusinya membangun sebuah jam’iyyah yang rabbani.

Masa Sebagai Ibu

Kaum Ibu mempunyai kedudukan yang agak berbeda dan khas, karena allah SWT telah menempatkan posisi para ibu setara dengan para mujahidah bila ia menjalankan perannya sebagai ibu dan istri yang baik. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“siapa diantara kalian para istri dan ibu ikhlas tinggal di rumah untuk mengasuh anak-anak dan melayani segala urusan suaminya maka ia akan mendapat pahala yang kadarnya sama dengan para mujahidin di jalan Allah” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sebagai seorang ibu, para wanita harus menyadari bahwa rumah merupakan basis utama kerja dan dakwahnya. Oleh karenanya, nilai ibadah terbesar seorang ibu di mata Allah SWT adalah membesarkan anak-anaknya dengan penuh tanggung jawab. Karena ini pun merupakan bagian dari kontribusinya sebagai bagian dari Jam’iyyah, yakni menyiapkan generasi yang Islami berarti menyiapkan sebuah jam’iyyah yang islami pula.

Semoga kita setiap wanita, dengan apapun perannya dapat memaksimalkan segala potensi yang dimiliki untuk membangun jam’iyyah yang Rabbani. Wallahu ‘alam

PESONA ITU BERNAMA TELADAN

Oleh: Asri Kamila
Banyak wanita di dunia ini yang ikut menggoreskan namanya dalam kancah sejarah kehidupan. Lady Diana, wanita anggun yang memiliki jiwa kepedulian yang tinggi. Ratu Elizabeth, penguasa Inggris yang bijak.
Tak terkecuali mujahidah-mujahidah kita, Siti Khadijah, seorang business woman yang juga merupakan orang yang cukup berpengaruh terhadap keberhasilan perjuangan Rasulullah SAW. Kemudian Aisyah, Fatimah Az-Zahra, dan tentu masih banyak kaum hawa lainnya yang mampu menebarkan semerbak pesonanya dalam kehidupan dunia ini.
Tidak ada yang memungkiri pesona dari peran mereka masing-masing, mampu membuat kehidupan pada masanya menjadi lebih baik. Lalu…………apakah pesona itu hanya milik mereka? Tidakkah kita mampu pula menebarkan pesona itu?
Sebagai agama yang sempurna. Islam memandang wanita sebagai unsur penting sebuah kebangkitan, ketahanan, dan keselamatan masyarakat. Kaum hawa memiliki andil besar melahirkan para pahlawan besar yang menggetarkan dunia. Pesona mereka ada pada keluarga, dakwah dan masyarakat.
Wanita, pesona keluarga
Seorang wanita harus yakin bahwa azas perbaikan umat adalah perbaikan keluarga, sedangkan perbaikan keluarga dimulai dari pembenahan diri para pemudi.
Seorang anak perempuan yang berbakti, memaksimalkan kepatuhannya kepada kedua orang tua, serta meyakini bahwa ridho Allah sangat bergantung pada ridho orang tua, tentu ia telah menebarkan pesona kebaikan dan keluhuran Islam dalam pekertinya pada keluarga.
Biasanya,pribadi seorang anak tak terlahir begitu saja. Ada pesona kaum hawa lainnya yang punya andil besar, ia tentu adalah seorang ibu yang menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Betapa mahaguna peran wanita dalam keluarga, bangunan peradaban diukir lewat jemari lentik para wanita. Senyumnya, perkataannya, gerak-geriknya, tingkah lakunya, menjadi film dokumenter abadi dalam benak anak-anaknya, yang kemudian menjelma dalam sifat dan sikap mereka.
Wanita, pesona dakwah
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru pada Allah, mengerjakan amal shaleh, dan berkata, ‘sungguh aku termasuk orang-orang yang berserah diri’”( Q. S. Fushilat : 33)
Seorang tokoh berkata, bangsa ini rusak bukan hanya karena tindakan syetan, namun juga karena orang-orang baik memilih diam. Bergerak dan memaksimalkan potensi diri adalah solusi. Mungkin saja banyak yang merasa perannya dalam dakwah tidak begitu besar, banyak yang tidak menyadari sosok muslimah dengan keberadaannya saja bisa memberi pengaruh pada lingkungannya, karena itu hati-hati membawa hati dan tingkah laku.
Wanita, pesona masyarakat
Masyarakat, yakni lingkungan sekitar, tumbuh dengan berbagai tradisi dan aturan. Muslimah yang penuh pesona senantiasa berusaha ikut membangun lingkungan, melestarikan setiap kebaikan, memupuk kemuliaan, serta menumbuhkan seikap saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Keteladanan sejati tidak hanya sempurna berpakaian, diam di rumah, dan bersikap sopan. Namun harus diiringi dengan amal, gerak, serta budi pekerti yang kemudian mampu menumbuhkan kebiasaan baik, “Ala bias karena biasa”.
Muhammad Jauhari pernah berpesan, “kondisikan dirimu untuk berkomitmen pada kebaikan, sebab dengan begitu engkau membuat contoh yang akan ditiru anak-anakmu.”
Ternyata, pesona itu tak hanya milik mereka yang memiliki kebesaran nama. Siapapun kita, seorang perempuan, kehadirannya mampu penuh dengan pesona. Walaupun sangat mungkin pula sarat dengan sumber petaka. Semua kembali pada diri dan nurani masing-masing.
Karena ternyata pesona itu bukanlah kecantikan, kemolekan, atau gelimpangan harta. Pesona itu tak lain adalah teladan, bagi keluarga, dakwah dan masyarakat.
Wallahu ‘alam

HATI-HATI!!!

Oleh: Pembela agama Allah
Orang gila tidak hanya ada di dunia nyata saja,tetapi di dunia maya pun ada, salah satunya seseorang yang harus anda waspadai, dia memiliki blog yang bernama indonesiafaithfreedom.blogspot.com. Dalam blognya (teks profilenya) dia menghina nabi Muhamad dengan keji, salah satunya dia mengatakan bahwa nabi Muhamad psikopat, nabi Muhamad pembunuh massal. Dalam pengakuannya, dia mengatakan bahwa dia seseorang yang keluar dari Islam. Naudzubillah...nampaknya dia masih beruntung, idealnya jika menurut hukum Islam seharusnya dia di hukum karena kemurtadannya dengan hukuman mati. Apalagi ditambah mencaci maki utusan Allah. Saya peringatkan jika pemilik blog yang saya maksud membaca entri ini, maka "persiapkanlah diri anda untuk mencicipi air mendidih di neraka".

Pendidikan Bernuansa Tauhid Pada Anak Usia Dini

Oleh Karina Nastiya

“Keluarga yang baik pasti peduli pendidikan”
Pendidikan sebagai inti dalam kehidupan, tanpa pendidikan potensi yang dimiliki oleh seorang manusia tak akan dapat teroptimalkan dengan baik. Begitu banyak orang tua muslim menaruh perhatian terhadap upaya penjagaan identitas keislaman anak-anak mereka, lalai akan pentingnya mendidik anak sesuai Al-qur’an dan Sunnah merupakan akar dari segala persoalan.
Dalam Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidikan merupakan usaha sadr dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.
Pernyataan tersebut mengindikasikan perlunya upaya dari orang tua dalam mendidik anak-anaknya agar mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh anak-anaknya. Mendidik anak-anak sesuai Al-qur’an dan Sunnah perlu kerjasama. Kedua orang tua harus meluangkan wktu mereka dan ikut serta secara aktif mengajar anak-anak mereka. Adalah tugas orang tua untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka sejak dini mengenai konsep tentang Alloh Swt, tentang tauhid (keesaan Alloh) dan tentang syirik (menyekutukan Alloh). Demikian juga, tentang rukun Islam dan rukun iman dan kepastian akan kematian, hari kiamat, surga dan neraka, itu semua harus diperkenalkan dan didiskusikan.
Dalam Al-Qur’an surat An-Naas, tauhid terbagi menjadi tiga yaitu tauhid rububiyah, tauhid mulkiyah dan tauhiduluhiyah. Aspek pertama, tauhid rububiyah yang berarti mengesakan Alloh Swt dalam penciptaan, pemeliharaan, pemilikan, dst. Tauhid rububiyah terbagi atas tiga menurut fungsinya :
a)Khaliqan (pencipta) QS 25:2, 2:21-22
b)Raziqan (pemberi rizki) QS 51:57-58
c)Malikan (pemilik) QS 2:284, 1:4, 114:2, & 62:2.
Tauhid rububiyah sebagai landasan bersyukur, sebab Alloh Swt yang menciptakan, menjamin rezeki dan memiliki kita.
Aspek kedua, tauhid mulkiyah adalah mengesakan Alloh Swt sebagai satu-satunya pembuat hukum dan pemerintah. Tauhid mulkiyah Alloh Swt meliputi :
a)Waliyyan (pemimpin) QS 7:196
b)Hakiman (pembuat hukum)
c)Amiran (pemerintah) QS 3:55
Tauhid mulkiyah menjadi landasan operasional. Karena ketika Alloh Swt menciptakan manusia Alloh telah menentukan ’blue print’ atau pedoman bagi manusia yaitu Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pegangan hidup di dunia.
Aspek ketiga, tauhid uluhiyah adalah mengesakan Alloh Swt dalam segala bentuk penyembahan. Tauhid uluhiyah ini merupakan penguat tujuan kedua tauhid sebelumnya yaitu menjadikan Alloh Swt sebagai ilahan ma’budan / Tuhan Yang Disembah. Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat An-Naas ayat 4 dan surat Al-Kafiruun ayat 1-6. Selain itu, tauhid uluhiyah sebagai landasan tujuan setiap amal kita, karena Alloh Swt-lah yang kita sembah. Contoh-contoh kemusyrikan yang timbul karena pengingkaran atau ketidak fahaman terhadap tauhid rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah.
Masa usia dini merupakan masa keemasan (golsen age) bagi perkembangan intelektual seorang manusia. Masa usia dini merupakan fase dasar untuk tumbuhnya kemandirian, belajar untuk berpartisipasi, kreatif, imajinatif dan mampu berinteraksi. Hal ini senada dengan ungkapan Ihat (2003:55) bahwa perkembangn intelegensi, kepribadian dan perilaku sosial pada manusia terjadi paling cepat pada usia dini, bahkan menurut Bloom (1984) bahwa separuh dari semua potensi intelektual sudah terjadi pada umur empat tahun.
Oleh karena itu, pendidikan dalam keluarga sebagai pendidikan yang pertama dan utama bagi perkembangan seorang anak, sebab keluarga merupakan wahana yang pertama untuk seorang anak dalam memperoleh keyakinan agama, nilai, moral, pengetahuan dan keterampilan, yang dapat dijadikan patokan bagi anak dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Seorang ibu adalah orang terdekat bagi anaknya dan tiap anak mungkin memiliki gaya belajar berbeda. Meski begitu, tiap anak tetap mampu berprestasi dengan ditunjang sarana belajar yang sesuai kebutuhan. Akan tetapi dalam hal mendidik anak ayah pun memiliki peranan penting dalam menyempurnakan proses pendidikan. Karena orang tua harus berusaha memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya, agar kelak ia menjadi makhluk yang paripurna. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim ”Didiklah anak-anakmu, sebab mereka dilahirkan untuk hidup dalam suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu.”
Lingkungan keluarga yang paling banyak mempengaruhi kondisi psikologis dan spiritual anak. Terdapat beberapa alternatif dalam mengenalkan Islam, baik dengan nyanyian dan cerita. Berikut ini ada beberapa contoh upaya dalam mengenalkan, memahamkan dan memberi nuansa tauhid bagi anak-anak :
1. sebelum memulai seluruh aktivitas yang bersentuhan dengan proses pembelajaran usahakan melakukan Kebulatan Tekad Pagi Hari. Hal ini merupakan pengganti salam penghormatan kepada ilmu, biasakan anak membaca kebulatan tekad sebelum pelajaran dimulai :
”Rodhiitu billahi robba wa bil islami diinaa wabimuhammadin nabiyya wa rosuula”
”Kami rela Alloh sebagai Rabb kami, Islam sebagai agama kami, dan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul kami.” (Jaudah, 1999:30)
2. Mengenalkan anak bahwa Alloh Swt Maha Pencipta dengan menceritakan menggunakan alat peraga baik gambar atau memperhatikan keadaan di lingkungan sekitar. Dengan materi pembelajaran tentang fakta penciptaan organ tubuh seperti mata, hidung, telinga, dll. Selain itu, makhluk lainnya seperti burung, semut serta bumi tempat manusia tinggal.
3. Mengenalkan anak bahwa Alloh Swt memberikan wahyu melalui perantara Nabi Muhammd Saw berupa Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia. Dengan amaln tambahan yaitu sunnah Rasul. Jelaskan pada anak bahwa didalam Al-Qur’an terdapat aturan bagi manusia untuk menunaikan ibadah, serta kisah-kisah tentang nabi terdaahulu.
4. mengajarkan anak bahwa tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Alloh. Dengan tidak mempercayai hal-hal yang bersifat musyrik / menyekutukan Alloh Swt dengn benda atau hal lainnya.

Akar Bencana

Oleh: DEDE.QS/ Komarudin soleh ( Mhs Tafsir Hadits STAI Persis)
Climate change & Global Warming, perubahan iklim dan pemanasan global, kalimat tersebut dengan cepat memasyarakat, setelah 189 para pakar dan wakil negara mewakili negaranya masing-masing berkumpul di Bali untuk mendiskusikan persoalan yang sangat menghawatirkan masyarakat bumi. Yaitu naiknya suhu bumi. Yang diperkirakan sejak 1990 sampai 2100 nanti suhu udara bumi akan meningkat dari kisaran 1,1 sampai 6,4 derajat celcius disebabkan rusaknya lingkungan hidup. Organisasi para astronot dunia yang dikenal dengan nama NASA, melaporkan bahwa sekarang saja ketebalan es dikutub utara 40% lebih tipis daripada tahun 60-an. Akibatnya banyak pulau-pulau kecil tenggelam, karena naiknya air laut yang di sebabkan sedikit demi sedikit gunung-gunung dan benua es di kutub utara dan selatan mencair. Diperkirakan permukaan air laut akan naik sampai 95 cm. Bahkan seorang fisikawan barat yang bernama Stephen Hawking mengatakan bahwa kemungkinan terjadinya kiamat itu karena pemanasan global, sebab pemanasan global lebih dahsyat daripada perang nuklir. Memang perkiraan hanyalah perkiraan, ilmu manusia tidak akan melampaui ilmu Allah tentang kiamat, tapi apakah pemanasan global seperti yang terjadi saat ini adalah yang dimaksud oleh Rasulullah bahwa diantara tanda kiamat adalah api yang mengumpulkan manusia dari timur ke barat? sebab apa yang dikatakan oleh Rasulullah kadang bersifat tekstual atau kontekstual, atau dhohir atau ma’nawi, kita kembalikan kepada Allah, wallahu a’lam. Apakah mungkin mencairnya gunung-gunung es yang mengakibatkan naiknya air laut akan menenggelamkan Indonesia dan yang lainnya?. Sebagai umat muslim hendaknya kita menyadari akan hal itu, kenapa itu bisa terjadi?. Mungkin cukup menjadi jawaban bahkan peringatan bagi kita didalam Al-Qur’an surat Ar-rum ayat 41, Allah Swt berfirman:
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Qs. Ar-rum: 41)
Climate change dan global warming terjadi bukan tanpa sebab, bahkan ada hal yang menyebabkan bencana-bencana (termasuk climate change & global warming) itu terjadi yang
tidak secara nampak dengan peledakan atau pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan. Membuat kerusakan di muka bumi memang hobi manusia, yang terdiri dari membuat kerusakan secara dhohir dan secara ma’nawi. Secara dhohir dapat dilihat misalkan dari penebangan pohon-pohon dengan buas. Yang menjadi penyebab paling utama datangnya bencana sebenarnya adalah kerusakan secara ma’nawi yang di lakukan oleh anak, cucu, sampai cicit Adam. Yaitu dekadensi moral yang sedang naik daun. Allah semakin disekutukan dengan thagut-thagut zaman modern maupun tradisional, kemusrykan seolah menjadi akidah, minuman keras seakan menjadi kebutuhan primer, perzinaan menjadi sesuatu yang lazim didengar, hamil diluar nikah seolah menjadi bagian dari politik etis, perjudian seakan menjadi bagian dari ekonomi, dan akhlak para remaja terus di suplay dengan produk-produk Zionis dari mulai pakaian, bahasa, sampai pembentukan konsep diri. Yang menjadikan para kader penghuni negeri yang kabarnya mayoritas muslim ini tidak taat hukum.
Suhu nafsu umat muslim terus mengalami pemanasan karena terus disuluti oleh setan dari golongan jin juga para setan manusia perorangan maupun yang terorganisir (kaum kufar misionaris/ zionis), agar menjauh dari kebaikan-kebaikan. Namun para pengklaim “orang beriman” sendirilah sebenarnya yang menyebabkan semakin berubahnya iklim kehidupan di muka bumi yang berdampak berubahnya iklim bumi secara geografis dan mengundang bencana, artinya orang muslim sendiri. Sebab orang-orang kafir tidak memiliki kuasa untuk menghancurkan islam, hanya saja karena rendahnya imanmeter orang-orang islam sendiri maka mereka dengan mudah disesatkan. Memang zaman yang semakin buruk merupakan sunatullah, yang sebagaimana dikatakan oleh Anas bin Malik kepada Zubair Ibnu Addiy:
اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Bersabarlah, karena sesungguhnya tidak datang atas kamu zaman kecuali yang datang sesudahnya lebih jelek dari sebelumnya, sampai kalian bertemu Rabb kalian. Aku mendengarnya dari Nabi kalian. (صحيح البخاري, كتاب الفتن )
Tapi hadits ini tidak mengindikasikan untuk bersikap pasif dan mewajarkan kekacauan di tubuh umat muslim, melainkan pegangan yang harus kita ambil ialah harusnya bersikap istiqomah dizaman yang serba jauh dari konsep agama islam ini. Terutama para penjuru da’wah, haruslah bersikap semangat dan tidak berputus asa. Memang dunia semakin maju, kekayaan semakin melimpah, dan kemudahan semakin dapat dirasakan oleh warga dunia karena berkembangnya teknologi. Tapi bukan itulah yang dimaksud oleh Rasulullah. Melainkan semakin buruknya akhlak manusia, semakin di marjinalkannya Al-Qur’an dan Sunnah, dan semakin murahnya agama. Dari mulai ma’shiyat kelas “pepetek” sampai kelas “paus” seakan menjadi sesuatu yang tak berhukum dan disepelekan. Maka bencana-bencana itu datang, karena kerusakan-kerusakan yang dilakukan oleh manusia, baik kerusakan terhadap fasilitas bumi secara langsung (dhahir) maupun kerusakan secara tersembunyi dengan ma’shiyat (ma’nawi), ma’shiyat secara perorangan (munkar) maupun bersama-sama (fahisyah), misalkan zina.
Sudah selayaknya kita berintrospeksi diri dan meluruskannya, bukan menakuti diri dengan prediksi gempa bumi atau tsunami. Climate change dan global warming tentu menjadi kabar yang menghawatirkan masyarakat bumi. Tapi perubahan iklim akhlaq dan pemanasan konflik antara nafsu ammarah bi tsu dengan ajaran agama harus lebih menghawatirkan lagi masyarakat bumi yang semuanya calon imigran masyarakat akhirat. Dengan berjamaah dan menegakan kalimah amar ma’ruf dan nahyi munkar, insya Allah dosa-dosa yang dilakukan bersama-sama akan bisa dihindarkan secara bersama-sama pula. Pada umumnya masjid hanya dijadikan tempat pengungsian setelah bencana datang. Akan tetapi hendaklah kita jadikan tempat menyelamatkan diri setiap hari dari azab Allah, baik didunia maupun diakhirat nanti. Bahkan bumi pun hakikatnya adalah masjid, tempat manusia bersujud dan berserah diri, hanya saja tidak untuk diinterpretasikan (ditafsirkan) dimana saja kita boleh menegakan shalat, ada tempat-tempat tertentu yang tidak dibenarkan dijadikan tempat shalat, misalkan makam. Semoga Allah menjadikan kita umat yang istiqomah dizaman yang serba mundur ini. Wallahu a’lam bishowab